Senin, 18 Agustus 2014

Contoh Wawancara dengan Guru

loading...

Contoh Wawancara - Apa sih sebenarnya wawancara itu? menurut wikipedia wawancara adalah merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Nah, jadi disini intinya minimal ada dua orang yang melakukan percakapan yaitu ada yang memberikan pertanyaan (pewawancara) dan yang menjawab pertanyaan (narasumber)

contoh wawancara dengan guru

Kita sudah tau apa itu wawancara, selanjutnya akan kami berikan contoh wawancara dengan guru sekolah. Tentunya dalam mewawancarai guru harus menggunakan bahasa yang sopan dan harus menanyakan hal-hal yang sopan pula, tidak boleh menanyakan hal-hal yang dapat menyingung perasaan orang yang kita wawancarai. Berikut ini contoh wawancara dengan guru.

Contoh Wawancara dengan Guru (1)

Pe-Wawancara : Sejak kapan Ibu menjadi guru BK?
Narasumber : Saya menjadi guru BK di SMPN xx Purworejo sejak tahun 2001. Tetapi, dulu sebelum saya diangkat menjadi PNS saya pernah bekerja menjadi guru BP di SMPN Kadipaten sebagai GTT ( Guru Tidak Tetap) pada tahun 1989. Lalu sekitar tahun 1997 saya mendaftar menjadi PNS di Purworejo. Kebetulan saya langsung lolos menjadi PNS. Pada awalnya saya ditempatkan di SMPN yy Purworejo . Saya mengajar di SMPN yy Purworejo sampai bulan Juli tahun 2001 karena saya pindah ke SMPN xxx Purworejo dan saya bekerja di SMPN xx Purworejo sampai sekarang.

Pe-Wawancara : Apa tugas-tugas yang harus Ibu lakukan sebagai guru BK?
Narasumber : Tugas saya sebagai guru BK harus membimbing siswa agar siswa bisa memahami dirinya, memahami lingkungannya , memahami potensi yang ada pada dirinya, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan siswa tersebut agar siswa tersebut mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Pe-Wawancara : Dimana saja Ibu mengenyam bangku pendidikan?
Narasumber : Saya sekolah di SDN 6 Kadipaten, Majalengka tamat tahun 1976 dan saya menamatkan SMP di SMPN 10 Bandung. Setelah tamat SMP kemudian saya melanjutkan ke SPGN 1 Bandung dan setelah tamat dari SPG pada tahun 1983 saya melanjutkan kuliah di IKIP Bandung mengambil jurusan Psikologin Pendidikan dan Bimbingan dan lulus tahun 1988.

Pe-Wawancara : Mengapa Ibu memilih bekerja sebagai guru BK?
Narasumber : Saya menyukai pekerjaan sebagai guru BK karena untuk menjadi guru BK harus mempelajari psikologi. Saya suka mempelajari psikologi karena psikologi itu mempelajari perilaku dan karakter manusia/ individu, dimana manusia termasuk makhluk yang unik dan kami dituntut untuk memahami seteiap karakter manusia.

Pe-Wawancara : Apa suka duka yang Ibu alami selama menjadi guru BK?
Narasumber : Banyak suka duka yang saya alami sebagai guru BK salah satu sukanya adalah kita bisa mempelajari berbagai karakter siswa dan ada perasaan bahagia apabila kita berhasil membantu siswa dalam mengatasi masalahnya. Kalau dukanya apabila kami dan pihak sekolah sudah berusaha untuk membantu siswa tapi siswa yang bersangkutan tidak mau dibantu bahkan memilih keluar atau drop out karena ada beberapa siswa yang berlatar belakang keluarga broken sehingga orang tua mereka kurang mendukung pendidikan anaknya.

Pe-Wawancara : Bagaimana cara Ibu mengatasi masalah-masalah yang timbul sebagai guru BK?
Narasumber : Apabila ada siswa yang bermasalah, contohnya membolos , kami tidak boleh memvonis bahwa siswa tersebut nakal. Kami mencari dulu latar belakang penyebab siswa tersebut bolos. Siswa yang membolos kami ajak bicara dari hati ke hati terlebih dahulu melalui proses konseling agar mau terbuka. Setelah diketahui latar belakang masalahnya, baru mencari solusi untuk mengatasi masalahnya. Biasanya siswa bisa mengambil keputusan terbaik bagi dirinya setelah diadakan konseling.

Pe-Wawancara : Siapa orang yang memotifasi Ibu sehingga Ibu sukses seperti sekarang?
Narasumber : Pada waktu sekolah di SPG saya tertarik dengan pelajaran BP (Bimbingan Penyuluhan) karena selain gurunya cantik beliau juga kalau menerangkan pelajaran juga sangat menarik. Guru BP tersebut banyak sekali membantu siswa dalam mengatasi masalahnya.
Kemudian orang tua saya juga mendukung saya untuk melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan PPB/BP dan saya juga ingin menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Kebetulan dengan menjadi guru BK saya bisa membantu siswa dalam mengatasi masalahnya. Saya juga merasa terpanggil untuk bertanggung jawab terhadap perkembangan moral dan budi pekerti genersai muda.

Pe-Wawancara : Tahapan- tahapan apa saja yang telah Ibu lalui?
Narasumber : Sebelum menjadi guru BK dulu saya pernah bekerja di biro penelitian SRI (Survey Research Indonesia) milik David Spark orang Amerika. Saya bekerja sebagai interviewer. Tapi setelah bekerja ± 2 tahun, saya merasa kurang cocok karena bekerja untuk orang asing dan saya ingin bekerja sesuai background pendidikan saya.

Contoh Hasil Wawancara dengan Guru (2)

Daftar Pertanyaan dan Jawaban dalam Wawancara dengan Guru Mengenai Model Pembelajaran yang Digunakan Di Kelas

Narasumber : Ibu Br. Nadapdap (Mengajar Bidang Studi B. Indonesia)
Nama Sekolah : SMAN 2 Bandar Kab. Simalungun Prov. Sumatera Utara

Pertanyaan : Bagaimana keadaan kelas dan siswa tempat ibu mengajar?
Jawaban : Berdasarkan sistem kurikulum baru yang ditetapkan pemerintah, maka jumlah murid disekolah kami masing-masing berjumlah 30 orang per kelas dan suasana pembelajaran dikelas tergolong kondusif ketika PBM berlangsung.
Pertanyaan : Ketika melakukan PBM di kelas, apakah ibu menerapkan model pembelajaran? Bila ya, model pembelajaran apa yang ibu terapkan?
Jawaban : Tentu saja setiap saya melakukan proses pembelajaran di kelas, saya selalu menerapkan model pembelajarn agar proses pembelajaran lebih efektif dan semua siswa turut aktif sehingga diharapkan dapat mencapai tingkat kompetensi yang diinginkan.
Model pembelajaran yang saya terapkan bagi siswa-siswi tergantung pada materi pembelajaran yang saya berikan. Misalnya materi yang saya ajarkan adalah mengenai drama, maka saya menerapkan model pembelajaran yang sifatnya demonstran atau drama. Kalau materi yang saya ajarkan bersifat analisis dan teoritis maka saya biasanya menerapkan model jigsaw.
Pertanyaan : Bagaimana langkah-langkah atau adakah langkah-langkah khusus yang ibu lakukan ketika menerapkan model-model pembelajaran?
Jawaban : Penerapan model-model pembelajaran yang saya lakukan dikelas seperti yang saya katakan tadi bergantung pada materi yang saya ajarkan dan tentunya langkah-langkahnya pun bergantung pada model pembelajarannya. Langkah-langkahnya harus sesuai dengan modelnya. Misalnya model jigsaw, saya pertama sekali membentuk dan membagi kelompok yang heterogen dulu yang mana nantinya ada kelompok ahli dan ada kelompok asal, saya mengkombinasikan antara siswa yang pandai, sedang dan kurang. Setelah itu saya berikan materi pelajaran bagi masing-masing kelompok untuk didiskusikan kemudian, masing-masing siswa dari dari kelompok asal saya gabungkan menjadi kelompok ahli yang akan menjelaskan materi yang ia pelajari. Begitu seterusnya sampai semua siswa benar-benar mengerti materi yang saya berikan.
Pertanyaan : Kesulitan atau kendala-kendala apa saja yang sering ibu temui saat pelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran?
Jawaban : Kesulitan yang sering saya temui adalah ada dari dua sisi. Yang pertama itu dari siswanya dan kemudian dari sarana dari sekolah yang kurang memadai. Dari sisi siswa misalnya masih ada beberapa siswa yang masih kurang percaya diri ketika mengikuti pembelajaran atau malu-malu kalau misalnya bergabung dengan teman-temannya yang lain, mungkin karena tidak terbiasa dengan diskusi diluar kelas sehingga ada beberapa siswa yang agak canggung dan kebingungan ketika saya menerapkan model pembelajaran tertentu. Pola pikir siswanya masih banyak yang terlalu monoton atau kurang cepat menangkap pelajaran sehingga kadang-kadang membutuhkan waktu lama untuk menerapkannya karena waktu pembelajarannya rata-rata hanya 2x45 menit, dengan kata lain, waktu untuk menerapkan model itu saya rasa kurang karena memang membutuhkan waktu yang agak lama. Kalau dari segi sarana dan prasaran mungkin karena sekolah kami belum termasuk ditengah kota besar sehingga fasilitasnya pun masih kurang memadai sehingga cukup menyulitkan ketika saya ingin menerapkan beberapa model pembelajaran tertentu. Misalnya kurang tersedianya infokus ketika ingin mendemonstrasikan mata pelajaran yang saya bawakan.
Pertanyaan : Bagaimana rata - rata kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran?
Jawaban : Kemampuan rata-rata siswa yang saya ajarkan masih tergolong biasa-biasa saja karena mungkin pola pikirnya belum luas dan kurang berkembang, tidak seperti di kota jadi tidak semua materi yang saya ajarkan dapat diterima dengan maksimal
Pertanyaan : Bagaimanakan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya model-model pembelajaran?
Jawaban : Prestasi belajarnya masih tergolong biasa-biasa saja artinya kebanyakan siswa masih didominasi oleh siswa-siswa yang kurang dapat menyerap pelajaran dengan maksimal sehingga hasil akhir seperti ujiannya pun kurang memuaskan dan masih jauh dari apa yang saya harapkan. Mungkin karena memang masih terlalu mendaerah sekolahnya jadi para siswa masih banyak yang kurang memanfaatkan teknologi pada hal ada banyak hal yang bisa didapat dari internet misalnya untuk menambah wawasan diluar dari model pembelajaran yang saya lakukan. Dengan kata lain bahwa prestasi belajar itu tidak melulu ditentukan oleh model pembelajaran, tergantung bagaimana keefektivan dan kreativitas siswa itu dalam mengembangkan wawasannya.
Pertanyaan : Pernahkan para siswa mengeluh tentang penerapan model-model pembelajaran yang ibu terapkan?
Jawaban : Tidak pernah. Mereka cenderung menurut saja dengan berbagai model-model pembelajaran yang saya berikan.
Pertanyaan : Apa rencana ibu kedepannya untuk lebih memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa melalui model-model pembelajaran? Misalnya apakah ibu akan berinovasi dalam penerapan model-model itu?
Jawaban : Ya tentunya saya akan terus berusaha untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang cocok untuk siswa-siswa saya. Saya selalu memantau sampai sejauh mana keefektivan model-model pembelajaran yang telah saya terapkan. Dan tentunya akan ada inovasi yang akan saya terapkan kemudian yang saya kondisikan dengan siswa.

Ringkasan dan Kesimpulan hasil wawancara :
Dari hasil wawancara yang saya lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa di pembelajaran di SMA Negeri 2 Bandar, Kab. Simalungun Prov. Sumatera Utara, sudah menerapkan model-model pembelajaran. Model-model pembelajaran yang dilakukan atau diterapkan disesuaikan dengan materi pelajaran yang diberikan oleh guru yang bersangkutan. Narasumber atau guru tersebut mengatakan bahwa pada dasarnya kemampuan siswa-siswi dalam menyerap dan mengikuti pembelajaran di SMA Negeri 2 Bandar masih tergolong rendah karena kondisi lingkungan mungkin yang masih bersifat kedaerahan sehingga kemampuan berpikirnya masih jauh dari siswa-siswi yang bersekolah di pusat kota atau di kota. Dengan demikian penggunaan model-model pembelajaran yang sudah diusahakan semaksimal mungkin masih belum bisa mendongkrak prestasi belajar yang tinggi sebagaimana yang diharapkan oleh narasumber. Dalam penerapan model-model pembelajaran, kendala yang paling sering dan umum yang dialami oleh narasumber adalah siswanya yang masih malu-malu atau kurang percaya diri atau kaku ketika PBM berlangsung, sarana atau fasilitas dari sekolah yang kurang memadai atau bahkan tidak lengkap, dan waktunya yang kurang sehingga kadang-kadang tidak semua tujuan pembelajaran tercapai. Untuk kedepannya narasumber mengaku akan terus mengembangkan model-model pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa yang diajarnya.

Gimana? semoga contoh wawancara dengan guru diatas bisa bermanfaat buat kalian semua ya. Selamat mengerjakan tugas :D